Fenomena Hilangnya Manula di Jepang

Hilangnya manula berusia 100 tahun ke atas di Jepang, menjadi sebuah fenomena baru. Apa yang sebenarnya terjadi?



Ketika musim panas di bulan Juli lalu, kepolisian Jepang menemukan jasad Sogen Kato yang sudah seperti dimumi. Ia masih terbaring di tempat tidurnya, meski telah tewas lebih dari 30 tahun lalu. Jika masih hidup, usianya kini 111 tahun dan dipercaya bisa menjadi salah satu orang tertua di Jepang.

Putrinya yang berusia 81 tahun menyembunyikan kematiannya demi keuntungan pribadi. Ia telah mengantongi lebih dari sembilan juta yen atau Rp944,7 juta biaya pensiun. Hal ini baru dilakukan setelah pemerintah curiga dan mengirimkan tim untuk memeriksanya.

Hal serupa terjadi ketika tim pemerintah berkunjung ke rumah perempuan tertua, Fusa Furuya yang berusia 113 tahun. Putrinya tak pernah lagi melihat perempuan ini sejak 1980-an. Media Jepang pun mulai menghitung manula-manula yang menghilang.

Media Jepang telah banyak memberitakan fenomena ini, hingga menjadi perhatian nasional. Berbagai penipuan untuk mengambil jatah pensiun ini sudah banyak terjadi. Berdasarkan perhitungan tidak resmi media, ada lebih dari 230 ribu manula terdaftar, namun tak pernah terlihat batang hidungnya.

Misalnya saja salah satu perempuan, yang jika masih hidup maka berusia 125 tahun ini. Ia terdaftar masih hidup di sebuah taman di Kota Kobe. Kemudian juga di Prefektur Yamaguchi, terdaftar seorang warga yang masih hidup pada usia 186 tahun.

Masalah di belakangnya lebih besar lagi. Pertama adalah sensus penduduk yang mencatat kelahiran dan kematian, tidak akurat. Kementerian Hukum menyatakan, ada kemungkinan manula tersebut telah tewas sejak Perang Dunia II, namun tidak ada dokumen kematian resmi.

Beberapa dari mereka juga bermigrasi tanpa melaporkan atau bisa pula pihak keluarga tidak melaporkan kematian, apapun alasannya. Berdasarkan data pensiun dan tunjangan manula, ada 44.449 warga Jepang yang berusia di atas 100 tahun.

Menurut suratkabar nasional Asahi, hal ini bermula dari keluarga para manula itu sendiri. “Keluarga yang menjadi orang terdekat, malah tidak tahu dimana para manula itu berada. Anehnya, mereka tidak mau repot-repot melaporkan hal ini kepada polisi,” demikian editorialnya.

Memang, para orangtua biasanya hidup sendiri dan umumnya berada di pinggir kota. Sementara anak cucu berada lebih dekat ke pusat kota. Hal ini semakin memperparah, terutama karena Jepang terancam makin tua. Populasinya tak berimbang, dimana porsi manula lebih banyak ketimbang yang muda.

Negeri Sakura itu saat ini memiliki populasi manula terbanyak di dunia, yakni 20% penduduknya berusia di atas 65 tahun. Biro Statistik Kementerian Kesehatan Jepang memprediksikan, kategori ini akan mencapai 40% per 2050. Institut Populasi Nasional Jepang memperkirakan, sepertiganya hidup sendiri.

“Banyak di antara jumlah itu juga meninggal dalam keadaan sendirian. Ini telah menjadi sebuah fenomena modern yang dikenal dengan istilah kodokushi (mati sendirian),” demikian institut tersebut. Bukan lagi sebuah kejutan jika keluarga sendiri, sengaja tidak melaporkan kematian.

Sejauh ini, Kementerian Kesehatan Jepang baru mengusulkan untuk pertemuan face-to-face dengan penduduk berusia di atas 110 tahun untuk verifikasi langsung mengenai kondisi mereka. Sayang, pemerintah dipersulit dengan sikap rakyat yang seakan menolak peduli dengan masalah ini.

Sumber http://www.inilah.com/news/read/politik/2010/09/23/838701/fenomena-hilangnya-manula-jepang/\


Category Article -- Tampilkan lebih banyak posting klik disini Sitemap

Postingan menarik lainnya :


What's on Your Mind...