Jakarta Tak Tertolong, Ayo Boyongan!

Jakarta - Pakar membantah Jakarta tenggelam sebagai hal yang terlalu dibesar-besarkan. Jakarta sudah tak tertolong dan warga disarankan untuk pindah.

Associate Profesor di Jurusan Teknik Geofisika ITB Ir Teuku Abdullah Sanny M.Sc membantah kejadian amblesnya sejumlah wilayah di Jakarta sebagai sesuatu yang biasa terjadi seperti di kota besar di negara lain.

Menurut Sanny, meskipun fenomena alam biasa, tapi ia menegaskan, manusia punya kewajiban untuk beradaptasi dengan alam. Bukan sebaliknya menggampangkan dan pasrah terhadap masalah.

Proses intrusi air tanah menurutnya sangat berdampak besar, karena air tanah menjadi asin, bangunan menjadi korosif dan banyak wilayah yang longsor. “Perspektif masalah memang tampak biasa, namun memberi dampak yang luar biasa bagi kepentingan masyarakat Jakarta,” kata Sanny saat dihubungi INILAH.COM dari Jakarta.

Sebelumnya, ahli geoteknik yang tergabung dalam Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI) menilai kekhawatiran penurunan tanah di Jakarta bisa berpotensi menenggelamkan Jakarta sebagai hal yang berlebihan.

Guru Besar Teknik Kelautan ITB, Hang Tuah menilai penurunan permukaan tanah terjadi di hampir setiap kota besar yang ada di pinggir pantai. Jika ada sebagian wilayah Jakarta yang sering tergenang air, seperti Pluit dan Muara Karang hal itu karena permukaan tanah di tempat itu memang rendah sekitar 1 sampai 1,5 meter.

Namun penjelasan itu mendapat bantahan dari Sanny. Menurutnya, Jakarta memiliki kekhususan tersendiri dibandingkan wilayah lain yang memiliki pola geologi yang sama.

“Betul mirip tapi kadarnya berbeda. Jakarta sangat bermasalah karena memiliki penduduk yang begitu banyak. Penurunan pasti akan terjadi jika manusia berperilaku terus-terusan seperti ini. Sekitar 2020 atau 2030 bisa timbul bencana yang sangat besar,” katanya.

Ia juga menyayangkan DKI Jakarta yang masih belum memiliki teknologi untuk mencegah air garam masuk ke tanah penduduk. “Negara di pinggir pantai memang punya masalah. Saat ini telah ada teknologi untuk mencegah air garam masuk ke tanah penduduk. Namun, ini membutuhkan biaya yang besar,” urainya.

Bukti dari ‘bencana kecil’ adalah di Dermaga Lama (Ujung) Muara Angke Jakarta Utara yang turun 20 sentimeter di wilayah seluas 400 meter. Hal sama terjadi di Jalan RE Martadinata, yang juga terjadi akibat intrusi air laut.

Sementara Pemprov DKI malah mengkaji kemungkinan reklamasi pantai utara (pantura) di dua lokasi yakni di kawasan Ancol dan Teluk Naga. Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No 54/2008, pemerintah daerah telah diberikan peluang untuk melakukan reklamasi sampai dengan kedalaman delapan meter.

Sanny menolak keputusan tersebut dapat menjadi jalan keluar.Menurut dosen ITB ini, reklamasi memang menyelesaikan masalah, tapi tidak mengatasi kasus intrusi air garam.

Reklamasi dinilai Sanny hanya untuk mencegah ombak menerjang tepi pantai. “Reklamasi tidak akan menyelesaikan masalah selagi orang terus-terusan mengambil air tanah, tanpa batasan yang jelas dan pemanfaatan air tanah yang tidak ada aturan main.”

Hal senada juga diungkapkan oleh Geolog Senior Indonesia Awang Harun Satyana. Menurutnya, reklamasi malah akan menambah beban air laut. “Walaupun ada penambahan lahan di daerah pesisir pantai, wilayah tersebut malah akan ditaruh bangunan manusia yang lagi-lagi menambah jumlah penggunaan air tanah,” katanya

Bahkan, di sisi lain, Sanny malah menyarankan penduduk Jakarta untuk pindah karena ibukota ini sudah tidak tertolong lagi. “Jakarta tidak bisa ditanggulangi. Secara alamiah, manusia di sana terus bertambah banyak, sehingga tak akan mampu menampungnya,” katanya.

Sumber inilah.com\


Category Article -- Tampilkan lebih banyak posting klik disini Sitemap

Postingan menarik lainnya :


What's on Your Mind...